Intisari khutbah jum’at di masjid Baitul Hamid
14/03/2014
Tema : Ikhlash
Tujuan
manusia diciptakan :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا
لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku, (Qs. Ad-Dzariyat: 56).
Syarat
ibadah :
وَمَا
أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ
دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal
mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan
shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”.(QS: Al-Bayyinah Ayat: 5)
عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ
حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ
اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ
وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ
لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ
إِلَيْهِ .
Dari Amirul
Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya
mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya
setiap perbuatan
tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap
orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang
hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka
hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya
karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka
hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.
Dari ayat dan hadits di atas
syarat utama ibadah adalah niat ikhlash; yakni mengikhlashkan semua ibadah kita
hanya untuk Allah SWT.
Imam an-Nawawi dalam syarah
al-Arbain al-Nawawiyah menjelaskan bahwa orang ikhlash itu ada tiga tipe :
1. Tipe budak : yakni orang-orang
yang beribadah karena takut siksanya
Allah SWT, mereka melakukan ibadah dasarnya rasa takut.
2. Tipe pedagang : yakni
orang-orang yang beribadah karena mengharapkan pahala dan surganya Allah SWT,
mereka melakukan ibadah karena ada untungnya.
3. Orang yang beribadah hanya
mengharapkan ridho Allah SWT.
Manakah yang lebih baik beribadah
karena riya’ atau tidak beribadah karena takut riya’? beribadah karena riya’
itu lebih baik; karena dia sudah gugur kewajiban dan orang yang meninggalkan
ibadah karena takut riya’, justru masuk dalam kesyirikan.
Ketika bicara keikhlashan
sesungguhnya itu adalah dalam rangka koreksi dan menilai diri masing-masing
bukan dalam rangka menilai orang lain.
Usamah bin Zaid ketika dalam sebuah pertempuran
melawan orang kafir, ia membunuh orang
kafir yang sudah membaca syahadat dalam kondisi terdesak; ia mengira ia
pura-pura masuk Islam agar tidak dibunuh, maka ditegur Rasulullah SAW, dengan
sabdanya : “Apakah engkau sudah membedah dadanya , sehingga engkau tahu dia
pura-pura masuk Islam...”
Jadi ketika kita melihat ada
orang yang tiba-tiba baik, tiba-tiba banyak memberi karena mendekati pemiu,
kita tidak berhak untuk menilainya bahwa dia memberi karena ada maunya; karena kita
sesungguhnya sama-sama lagi menjadi peserta perlombaan bukan alih profesi jadi
juri....
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ
عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
.....................

Tidak ada komentar:
Posting Komentar