Kamis, 13 Maret 2014

IKHLASH



Intisari khutbah jum’at di masjid Baitul Hamid
14/03/2014
Tema : Ikhlash
Tujuan manusia diciptakan :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku, (Qs. Ad-Dzariyat: 56).

Syarat ibadah :
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”.(QS: Al-Bayyinah Ayat: 5)

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .
Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.
Dari ayat dan hadits di atas syarat utama ibadah adalah niat ikhlash; yakni mengikhlashkan semua ibadah kita hanya untuk Allah SWT.
Imam an-Nawawi dalam syarah al-Arbain al-Nawawiyah menjelaskan bahwa orang ikhlash itu ada tiga tipe :
1. Tipe budak : yakni orang-orang  yang beribadah karena takut siksanya Allah SWT, mereka melakukan ibadah dasarnya rasa takut.
2. Tipe pedagang : yakni orang-orang yang beribadah karena mengharapkan pahala dan surganya Allah SWT, mereka melakukan ibadah karena ada untungnya.
3. Orang yang beribadah hanya mengharapkan ridho Allah SWT.
Manakah yang lebih baik beribadah karena riya’ atau tidak beribadah karena takut riya’? beribadah karena riya’ itu lebih baik; karena dia sudah gugur kewajiban dan orang yang meninggalkan ibadah karena takut riya’, justru masuk dalam kesyirikan.
Ketika bicara keikhlashan sesungguhnya itu adalah dalam rangka koreksi dan menilai diri masing-masing bukan dalam rangka menilai orang lain.
 Usamah  bin Zaid ketika dalam sebuah pertempuran melawan orang kafir,  ia membunuh orang kafir yang sudah membaca syahadat dalam kondisi terdesak; ia mengira ia pura-pura masuk Islam agar tidak dibunuh, maka ditegur Rasulullah SAW, dengan sabdanya : “Apakah engkau sudah membedah dadanya , sehingga engkau tahu dia pura-pura masuk Islam...”
Jadi ketika kita melihat ada orang yang tiba-tiba baik, tiba-tiba banyak memberi karena mendekati pemiu, kita tidak berhak untuk menilainya bahwa dia memberi karena ada maunya; karena kita sesungguhnya sama-sama lagi menjadi peserta perlombaan bukan alih profesi jadi juri....
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
.....................

Tidak ada komentar:

Posting Komentar